anarko

Ideologi Anarko

Untuk dapat memahami Gerakan Anarko, kita harus mengenal varian-varian idiologinya. Varian Anarko adalah penggolongan dalam idiologi Anarkisme.

Penggolongan ini terjadi karena adanya perbedaan pandangan, sikap politik, latar belakang maupun taktik serta penerapan idiologi anarkisme itu sendiri oleh para anarkis

Di Indonesia Jejakdata mencatat, sedikitnya ada 5 (lima) dari 9 (sembilan) varian Idiologi Anarko, yaitu:

  1.  Anarko-Libetarian

Anarko-Libetarian adalah satu bentuk yang mengajarkan penghapusan negara atau institusi kenegaraan dan paham kapitalisme, untuk sebuah jaringan asosiasi sukarela dimana semua orang bebas memenuhi kebutuhannya.

Prinsip dasar Anarko-Libetarian menekankan pada egalitariansime (persamaan), penghapusan hierarki sosial, penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan kesukarelaan.

Negara tidak seharusnya eksis. dalam anarko- libetarian. Setiap orang atau kelompok berhak dan bebas untuk berkonstribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan piihannya sendiri.

  1.  Anarko-Sindikalis

Anarko-Sindikalis adalah cabang dari anarksime yang berkonsentrasi kepada gerakan buruh. Anarko Sindikalis berpendapat bahwa serikat buruh merupakan kekuatan yang potensial untuk menuju revolusi sosial, meggantikan kapitalisme dan negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja.

Anarko-Sindikalis berupaya menghapuskan sistem kerja upah dan negara atau kepemilikan pribadi terhadap alat produksi yang menurut mereka menuntun pada pembagian kelas.

Prinsip dasar Anarko-Sindikalis percaya bahwa semua pekerja, tak terlepas dari gender atau SARA berada dalam situasi yang serupa dalam kaitannya dengan majikan (kesadaran kelas). Lebih jauh lagi, hal itu berarti dalam sistem kapitalisme, setiap kerugian atau keuntungan yang diciptakan kaum pekerja.

  1.  Anarko-Feminisme

Anarko-Feminisme mengkombinasikan antara Anarkisme dengan Feminisme.

Anarko-Feminisme melihat Partiarki sebagai sebuah manifestasi hierarki. Dengan demikian hal tersebut merupakan masalah pokok dalam masyarakat.

Prinsip dasar Anarko-Feminisme mempercayai bahwa menghancurkan partiarki sama pentingnya dalam sebuah perjuangan kelas. Juga perlawanan kaum Anarkis melawan Negara dan Kapitalisme.

  1.  Anarko-Hijau

Anarko-Hijau adalah sebuah teori politik yang lahir dari filosofi dan gerakan sosial seperti, sosial ekologi, egoisme, situasionasime, surrealisme, anti-industrialisme.

Prinsip dasar Anarko-Hijau meletakan akar krisis ekologi dalam hubungannya dengan dominasi dalam masyarakat. Dominasi ini hanya mencapai krisis dibawah kapitalisme.

  1.  Anarko-Primitifisme

Anarko-Primitivisme disebut juga primitivisme radikal atau gerakan anti peradaban. Adalah sebuah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah arus radikal yang mengkritik peradaban dalam seluruh totalitasnya melalui perspektif anarkis. Mereka berupaya untuk menginisiasikan sebuah transformasi yang komprehensif atas hidup manusia.

Prinsip dasar bagi Anarko Primitivisme Peradaban adalah sebuah konteks pelipatgandaan relasi kekuasaan.

Jaringan

Sebagai sebuah gerakan politik, Anarko memiliki jaringan yang luas, baik diluar negeri maupun di dalam negeri.

– Untuk luar negeri, selain Amerika Serikat, Gerakan Anarko di Indonesia juga berjejaring dengan negara-negara Skandinavia.

– Sedangkan jaringan sektoral yang selalu memberikan support terhadap Gerakan Anarko di Indonesia adalah International Workers Association (Iwa).

– Selain itu mereka membangun jaringan di kawasan Asia Pasifik diantaranya dengan Anarcho-Syndicalistist Federation Australia (Asf Australia).

– Di Indonesia sendiri pada bulan Desember Tahun 1999 di Jogjakarta, dalam rangka menyatukan Varian-Varian Anarko membentuk sebuah jaringan nasional yang menamakan Jaringan Anti-Fasis Nusantara

– Pada 1 Mei 2007, kelompok-kelompok Anarko seperti Affinitas (Jogja), Jaringan Otonomis (Jakarta), Apokalips (Bandung) Jaringan Otonomi Kota (Salatiga), Freedom (Makassar), aktivis-aktivis individu, baik dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, Bali, Semarang dan beberapa grup Band Indie, Punk dan rumah produksi independent membentuk sebuah jaringan yang bernama Jaringan Anti-Otoritarian.

– Pada tahun 2010, kelompok Anarko yang beroperasi di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Pati, Surabaya, Rembang, Rangkasbitung, Salatiga, Porong), Sumatera (Palembang, Pekanbaru, Medan, Banda Aceh), Kalimantan (Balikpapan), Sulawesi (Makassar, Menado, Gorontalo) dan Bali membentuk workers power syndicate.

– Pada tahun 2015, Gerakan Anarko mulai melakukan pengorganisiran pada pelajar. bentuk pengorganisasiannya bersifat cair yang dibentuk dalam aliansi-aliansi yang berbasiskan kota.

– Sejak tahun 2018, perluasan pengorganisiran Gerakan Anarko melalui suporter bola. di Bandung sendiri, sebagai salah satu pusat Gerakan Anarko di Indonesia saat ini telah terbentuk Bandung Suporter Aliansi (BSA).

– Hampir seluruh suporter bola tim-tim besar di Indonesia berjejaring dalam BSA ini. Mereka berhasil disatukan dalam wadah ini melalui kinerja PSSI yang sangat buruk.

– Selain pembangunan organisasi-organisasi yang bercirikan anarko, Gerakan Anarko juga memiliki jaringan dan pengaruh kuat di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/ NGO) terutama yang berkaitan dengan hukum dan lingkungan.

– Kapasitas individu-individu anarko yang rata- rata memiliki pemahaman yang kuat (ideologis) membuat mereka mampu masuk dan memimpin lembaga-lembaga formal, seperti media massa, senat mahasiswa (BEM) dll.

– Mereka memiliki unit-unit produksi sendiri, yang tidak tergantung kepada “pihak manapun” (independen) seperti toko buku, distro baju, café dsb.

Metode Aksi dan Kerja

  1. Metode Aksi

– Dalam Gerakan Anarko mendasarkan pada aksi langsung atau tindakan langsung.

– Istilah ini digunakan untuk aksi politik dan ekonomi dimana para pelaku menggunakan kekuatan (ekonomi, politik, internet atau fisik) demi mencapai tujuannya secara langsung.

– Aksi langsung ini ada dua bentuk yang biasa digunakan oleh gerakan anarko:

  1. Aksi Langsung Non Kekerasan: meliputi pendudukan tempat umum, pemogokan kerja, pemogokan jalan, grafity action, hingga hacktivisme.
  2. Aksi Langsung Kekerasan: meliputi kekerasan politik maupun penyerangan, taktik seperti sabotase hingga pengrusakan properti.

– Politik Pemilu, diplomasi, negosiasi, protes dan abritase tidak dianggap sebagai aksi langsung karena adanya mediasi secara politis.

– Tujuan dari aksi langsung adalah untuk menghalangi agen atau organisasi politik lain melakukan praktik-praktik yang dianggap memberatkan para anarko untuk menyelesaikan masalah yang tidak ditanggapi oleh institusi sosial tradisional (pemerintah, organisasi keagamaan dsb) hingga memuaskan para peserta aksi secara langsung.

– Dalam pandangan anarko, negara adalah alat kekerasan sehingga perlawanan juga harus menggunakan kekerasan.

  1. Metode Kerja

– Dalam menjalankan aktivitasnya Gerakan Anarko dibagi berdasarkan potensi dan kemampuan masing-masing individu dan kolektif.

– Sehingga sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi keterkaitan antara satu dengan lainnya.

– Yang menyatukan kerja-kerja mereka hanya dapat dilihat dari kesamaan isu/tuntutan yang ditentukan dalam jaringan anti-otoritarian.

– Posisi kerja tiap-tiap individu atau kolektif kerja juga dapat dilihat dari varian idiologisnya.

– Anarko-Libetarian, Anarko-Feminisme dan Anarko-Hijau biasanya mengambil peran di strategi atas (agitasi propaganda).

– Sedangkan mobilisasi biasa dikerjakan oleh Anarko-Sidikalis dan Anarko Permitifisme.

– Dalam aksi-aksinya, Anarko lebih memanfaatkan momentum-momentum politik yang tersedia (bukan menciptakan momentum), seperti misalnya dalam perayaan aksi May-Day, aksi tani dll.

– Juga momentum-momentum yang tercipta karena situasi politik, seperti aksi-aksi penolakan UU, aksi penolakan penggusuran dll.

– Hal ini dilakukan alasan:

  • Agar aksi-aksi kekerasan yang mereka lakukan terselubung
  • Memanfaatkan kemarahan/amuk massa
  • Basis pengorganisasian yang berbasiskan kesadaran individu (tidak memiliki hierarki organisasi) sehingga menyulitkan mobilisasi jika tidak ada momentum.

Agenda Kerja Gerakan Anarko

Tahap I:

  1. Penting dan segera kita melakukan komunikasi dan konsolidasi ditingkat komunitas warga diseluruh titik api juang untuk ambil bagian dalam bentuk solidaritas menyikapi perkembangan terkini.
  1. Seperti aksi doa-solidaritas bersama dll untuk gerakan mahasiswa yang terus membesar ini ditempatnya masing-masing.
  1. Aksi langsung didepan properti korporasi dan kantor penyelenggara negara dalam rangka merespon UU dan RUU yang mengancam.
  1. Misalnya untuk Jawa Timur bisa dimulai pada 2 (dua) titik (Banyuwangi merespon UU Minerba, RUU Pertanahan, PSDN dll.Pasuruan merespon RUU Pertanahan dll.

Tahap II:

  1. Mendorong pertemuan simpul dan seluruh komunitas warga terdampak (minimal sepulau Jawa) untuk merumuskan narasi perlawanan bersama beserta protokol- protokol penting lainnya guna menghindari simplifikasi persoalan mendalam dari dampak terus meluasnya perluasan geografi produksi kapital saat ini.
  1. Hingga agenda kolektif (jangka pendek- jangka panjang).
  1. Pada tahap II ini bisa dibayangkan dalam bentuk terbangunnya mahkamah rakyat yang tidak lagi menggunakan pendekatan positivisme dalam melihat persoalan pembesaran akumulasi kapital saat ini.

Tahap III:

  1. Mengorganisir dan menguatkan narasi tandingan untuk melawan seluruh narasi pembangunan (yang dihadirkan lewat penerbitan RUU dan UU yang sedang dilawan saat ini), yang berasal dari komunitas yang tersebar dari hulu hingga hilir.
  2. Setidaknya point ini tertuang dalam bentuk:

a.Daftar proyek bermasalah seluruh komunitas.

b. Platform gerakan bersama.

Tentang Admin

1234567890

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *