Ribuan Warga Tanda Tangan Petisi di CFD Udayana, Desakan Pemeriksaan Gubernur NTB Menguat, Publik Mencium Bau Rekayasa Hukum dalam Skandal Dana Siluman dan BTT

- Jurnalis

Minggu, 23 November 2025 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Seorang Perempuan Muda Melakukan Aksi Tanda Tangan Petisi Dukungan Gubernur NTB Di Periksa Dalam Dugaan Skandal Korupsi Dana Siluman DPRD dan BTT

Foto: Seorang Perempuan Muda Melakukan Aksi Tanda Tangan Petisi Dukungan Gubernur NTB Di Periksa Dalam Dugaan Skandal Korupsi Dana Siluman DPRD dan BTT

Jejakdata.com | Mataram 23 November 2025 – Gelombang kemarahan publik terhadap penanganan kasus dugaan korupsi Pokir Siluman DPRD NTB dan penyalahgunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) kini memasuki fase baru. Pagi ini, di arena Car Free Day (CFD) Udayana, ribuan warga datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi untuk menandatangani petisi yang menuntut Kejati dan Polda NTB memeriksa Gubernur NTB.

Sejak pukul 06.00 WITA, bentangan banner putih berukuran besar menjadi pusat perhatian. Dalam hitungan menit, tinta merah membanjiri permukaannya. Nama demi nama. Tanda tangan demi tanda tangan. Beberapa bahkan menulis pesan:

“Jangan berhenti di DPRD.”

“Periksa gubernurnya.”

“Rakyat mengawasi.”

Aroma desakan publik terasa pekat. Orang tua, mahasiswa, pedagang, hingga ibu-ibu yang baru selesai berbelanja turun tangan. Mereka menunduk, menandatangani, memotret, lalu mengunggah ke media sosial. “Hari ini bukan hanya CFD,” kata seorang ibu yang menandatangani banner itu. “Hari ini adalah referendum moral.”

Foto: Tiga Orang Ibu-ibu Muda Melakukan Aksi Tanda Tangan Petisi Dukungan Gubernur NTB Di Periksa Dalam Dugaan Skandal Korupsi Dana Siluman DPRD dan BTT

Kasus Pokir Siluman sejauh ini baru menjerat dua anggota DPRD NTB. Namun publik merasa ada kejanggalan. Alokasi dana pokok-pokok pikiran tanpa dasar hukum, hingga aliran dana yang disebut mencapai miliaran rupiah, mustahil berjalan tanpa restu pemegang kekuasaan anggaran.

Baca Juga :  Dijuluki "Singa Udayana", Muhammad Aminurllah Bungkam Setelah Diperiksa Oleh Kejati Terkait Pokir Siluman

“Jika dua anggota dewan dikorbankan sementara aktor yang lebih besar diamankan, maka ini bukan penegakan hukum, ini manajemen risiko politik,” ujar Ramadhan Ubba, Ketua Umum GERPOSI, organisasi yang menggagas aksi ini.

GERPOSI menuding ada indikasi kuat kendali eksekutif dalam alokasi anggaran bodong tersebut. Dugaan semakin menguat setelah fakta bahwa Rp 2 miliar lebih dana yang dikembalikan sejumlah penerima tidak otomatis menggugurkan unsur pidana, namun justru membuktikan adanya perbuatan melawan hukum yang sudah terjadi. Namun hingga kini, gubernur tidak tersentuh.

Dalam pantauan Jejakdata.com, warga bahkan rela antre. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada panggung. Hanya satu pesan besar di lantai aspal:

“Periksa Gubernur NTaB. Hukum Jangan Tumpul ke Atas.”

Foto: Seorang Bapak Menjongkok, Melakukan Aksi Tanda Tangan Petisi Dukungan Gubernur NTB Di Periksa Dalam Dugaan Skandal Korupsi Dana Siluman DPRD dan BTT

Petisi ini rencananya akan dikirim bukan hanya ke Kejati NTB dan Polda NTB, tetapi juga ke Jaksa Agung RI, Kapolri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Baca Juga :  PUPR NTB Tidak Berani Membuka Dokumen Kecuali Diminta APH, GERPOSI Akan Melaporkan Secara Resmi Proyek Lenangguar–Lunyuk Rp 19 M

Jika respons lambat atau tidak ada tindakan, GERPOSI menyatakan akan menggelar aksi lanjutan yang lebih besar.

“Jangan remehkan suara rakyat,” kata Ubba.

“Banyak skandal korupsi di Indonesia lolos karena publik diam. Hari ini rakyat NTB memilih melawan.”

Seorang perempuan muda yang berjongkok memberi tanda tangan terakhir sebelum banner penuh berkata lirih:

“Kalau tidak ada tebang pilih, kenapa penyidik Kejati NTB tidak memeriksa Gubernur NTB, padahal para saksi legislator menyebut keterlibatannya”

Kata-kata itu menggantung di udara, lebih keras daripada teriakan demonstrasi mana pun. Hari ini, di Udayana, ribuan warga telah menulis sesuatu yang sederhana namun berbahaya bagi kekuasaan, tanda tangan.

Bukan tinta yang mereka titipkan. Melainkan amarah kolektif dan memori publik. Dan dalam sejarah penegakan hukum Indonesia, tekanan publik semacam ini, sering kali lebih kuat dari alat bukti formal. (JD13)

Follow WhatsApp Channel jejakdata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakaran Desa Sade Lombok Tengah, Wagub NTB Turun Lokasi dan Salurkan Bantuan
Kondisi Terkini Dusun Sade Lombok Usai Kebakaran: Rata dengan Tanah, Ratusan Warga Mengungsi
Pasca Kebakaran Rumah Adat Sade, Raffi Ahmad dan The Dudas-1 Gelontorkan Bantuan Rp1 Miliar
Kebakaran Besar Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah
Diduga Hina Maulid Adat Bayan di FB, Akun “Nye Ot” Dilaporkan ke Polda NTB
Polemik Revitalisasi PAUD Rp1,4 Miliar di Dompu, Lokasi Bangunan Dipersoalkan
BARA NTB Gelar Aksi Demonstrasi, Desak Direktur Utama Copot Kepala PLN Nusa Daya NTB
Rekam Jejak di Cabor Sorotan Utama: Iqbal Tidak Memenuhi Syarat Menjadi Kandidat Ketua KONI NTB
Berita ini 568 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Kebakaran Desa Sade Lombok Tengah, Wagub NTB Turun Lokasi dan Salurkan Bantuan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Kondisi Terkini Dusun Sade Lombok Usai Kebakaran: Rata dengan Tanah, Ratusan Warga Mengungsi

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:16 WIB

Pasca Kebakaran Rumah Adat Sade, Raffi Ahmad dan The Dudas-1 Gelontorkan Bantuan Rp1 Miliar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 00:17 WIB

Kebakaran Besar Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Diduga Hina Maulid Adat Bayan di FB, Akun “Nye Ot” Dilaporkan ke Polda NTB

Berita Terbaru

Screenshot

Berita

Kebakaran Besar Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah

Minggu, 23 Agu 2026 - 00:17 WIB