Kebijakan Dinilai Hanya ‘Kosmetik’, HMI Mataram Tuntut Gubernur NTB Seriusi Kemiskinan Ekstrem

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 20:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ketua Umum HMI Cabang Mataram, Ahmad Nasri (tengah mengenakan peci HMI), memberikan keterangan kepada awak media di sela-sela aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur NTB, HMI menegaskan hanya ingin menyerahkan dokumen pernyataan sikap berisi 10 tuntutan reformasi kebijakan dan anggaran secara langsung kepada Gubernur NTB. (JD09)

Foto: Ketua Umum HMI Cabang Mataram, Ahmad Nasri (tengah mengenakan peci HMI), memberikan keterangan kepada awak media di sela-sela aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur NTB, HMI menegaskan hanya ingin menyerahkan dokumen pernyataan sikap berisi 10 tuntutan reformasi kebijakan dan anggaran secara langsung kepada Gubernur NTB. (JD09)

Mataram, Jejakdata.com – Senin, 25 Mei 2026. Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mataram menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB). Aksi yang mengkritisi kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB ini sempat diwarnai ketegangan dan saling dorong antara mahasiswa dengan aparat kepolisian yang menjaga ketat gerbang masuk.

Berdasarkan dokumen pernyataan sikapnya, HMI Cabang Mataram, menilai arah pembangunan di NTB saat ini mengalami disorientasi, cenderung bersifat kosmetik, dan mengabaikan hak-hak dasar masyarakat di tingkat bawah.

Aksi yang dimulai sejak pagi hari tersebut berjalan dinamis. Secara bergilir, para koordinator lapangan naik ke atas mobil komando untuk menyampaikan orasinya secara bergantian. Suara lantang dari orator membakar semangat massa aksi di tengah terik matahari Kota Mataram.

Situasi makin memanas ketika salah satu orator di atas mobil komando menyampaikan orasi politiknya yang menyoroti dugaan penyelewengan anggaran daerah. Orator tersebut secara lantang menyuarakan adanya dugaan kasus “dana siluman” di tubuh DPRD NTB.

Tidak hanya legislatif, orator tersebut juga menuding adanya penyalahgunaan wewenang oleh Gubernur NTB terkait penggunaan alokasi dana Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dinilai tidak sesuai dengan peruntukan semestinya.

“Kami mencium adanya aroma busuk kemitraan transaksional. Kami menduga otak di balik kasus dana siluman yang berkedok program ‘Desa Berdaya’ ini tidak lain adalah Gubernur NTB sendiri!” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, yang langsung disambut riuh sorakan dari massa aksi.

Situasi di lapangan berlanjut tegang ketika massa aksi mendesak masuk ke dalam area Kantor Gubernur guna menemui Gubernur secara langsung. Keinginan mahasiswa tersebut dihadang oleh barikade ketat aparat kepolisian dan Satpol PP yang berjaga di pintu gerbang utama.

Baca Juga :  Kejati NTB Tantang Adu Data, PH IJU Tegas: Ini Bukan Soal Data, Konstruksi Kasusnya yang Keliru

Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan. Mahasiswa yang mencoba merangsek masuk terus memberikan tekanan ke lini pertahanan petugas. Pekikan takbir dan yel-yel perjuangan mahasiswa terus menggema di tengah riuh ketegangan tersebut, sebelum akhirnya situasi dapat diredam kembali oleh para korlap.

Saat ditemui oleh awak media di sela-sela aksi, Ketua Umum HMI Cabang Mataram, Ahmad Nasri, menegaskan bahwa massa aksi sengaja menolak untuk dimediasi atau ditemui oleh pejabat perwakilan dari Pemprov NTB. Mereka bersikeras bahwa dokumen pernyataan sikap dan tuntutan harus diserahkan langsung ke tangan orang nomor satu di NTB tersebut.

“Kami datang ke sini mengatasnamakan jeritan rakyat NTB. Karena itu, kami tidak mau diwakili oleh siapa pun dari pihak Pemprov. Kami hanya ingin menyerahkan langsung tuntutan ini kepada Gubernur,” tegas Ahmad Nasri di hadapan wartawan.

Di hadapan awak media dan barisan massa aksi, Ahmad Nasri kemudian membacakan langsung poin-poin pernyataan sikap serta 10 tuntutan resmi organisasi. Meskipun sempat diwarnai aksi saling dorong dengan aparat, unjuk rasa tersebut akhirnya berakhir dengan damai dan massa membubarkan diri secara tertib setelah pembacaan tuntutan selesai dilakukan.

Kendati demikian, Ahmad Nasri memastikan bahwa langkah HMI tidak akan berhenti sampai di sini. Pihaknya akan segera melakukan konsolidasi besar-besaran untuk kembali turun ke jalan dengan kekuatan penuh.

“Aksi hari ini berakhir damai, tetapi ini baru permulaan. Kami akan segera melakukan konsolidasi total untuk membawa massa yang jauh lebih banyak. Kami akan kembali menggelar aksi lanjutan sampai Gubernur menemui kami dan menerima tuntutan ini secara langsung,” ancam Nasri.

Baca Juga :  Resmi di Lantik, Ketua Umum HMI Cabang Mataram Tekankan Untuk Menjaga Semangat Keislaman dan Kebangsaan.

10 Poin Tuntutan HMI Cabang Mataram

Sebagai bentuk komitmen keumatan dan keindonesiaan, HMI Cabang Mataram mendesak Pemprov dan DPRD NTB untuk segera mengambil langkah konkret atas 10 tuntutan berikut:

  1. ​Menolak segala bentuk pungutan berkedok “uang komite”, “uang pembangunan”, atau sumbangan sukarela di tingkat SMA/SMK/MA.
  2. Menagih janji Gubernur NTB terkait beasiswa gratis bagi pemuda NTB (non-APBD).
  3. Mendesak Gubernur memberikan upah yang manusiawi bagi guru-guru honorer dan PW.
  4. Mendesak Gubernur memberikan bantuan pertanian secara tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan.
  5. Menuntut Pemerintah Provinsi/KP3 (Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida) melakukan audit total terhadap jalur distribusi pupuk subsidi guna memberantas mafia dan spekulan.
  6. Mendesak pemerintah daerah untuk mengintervensi pasar dan menetapkan standar harga yang layak untuk komoditas unggulan daerah (padi, jagung, tembakau, porang, dll) demi menyetop eksploitasi tengkulak.
  7. Mendesak Gubernur untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat yang mengalami kemiskinan ekstrem.
  8. Mendesak Gubernur dan DPRD untuk memperbaiki seluruh infrastruktur provinsi se-NTB.
  9. Mendesak satgas MBG Provinsi NTB melakukan pemberdayaan UMKM, petani, dan peternak lokal NTB serta membentuk tim pengawas independen.
  10. Mendesak Gubernur untuk memberhentikan program desa berdaya karena dinilai menghamburkan anggaran tanpa progres yang jelas selama 1 tahun terakhir.

Aksi dan pernyataan sikap ini dikomandoi oleh para Koordinator Lapangan (Ajmal Akbar, Bayu Nicola Hasbullah, dan Azis) serta diketahui langsung oleh Ketua Umum HMI Cabang Mataram, Ahmad Nasri. (JD09)

Follow WhatsApp Channel jejakdata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Marak Blokade Jalan di Bima-Dompu, GAKADA BIDOM Tekankan Pentingnya Polmas Humanis
Badko HMI Bali Nusra Desak Evaluasi dan Pencabutan Izin Travel Umrah Bermasalah di NTB
Dituding Menipu Jamaah Umroh di Media Sosial, Direktur PT Indah Harmoni Anugrah Laporkan Dua Akun Facebook ke Polda NTB
KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA
Pucuk Pimpinan Polda Bergeser: Dadang ke Metro, Dekananto ke Jatim, Wakapolda Metro Naik ke Kursi Kapolda
Gerbong Besar di Mabes Polri Bergerak, Suyudi Rombak 14 PJU dan Mutasi 88 Pati-Pamen
Direktur Eksekutif Visi Indonesia: Suyudi Ario Seto Harus Jadikan Reformasi Polri sebagai Legacy Kepemimpinannya
Dinilai Mencekik Masyarakat, Fraksi Demokrat Keberatan Tarif Retribusi IPR Dalam Raperda
Berita ini 103 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:37 WIB

Marak Blokade Jalan di Bima-Dompu, GAKADA BIDOM Tekankan Pentingnya Polmas Humanis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Badko HMI Bali Nusra Desak Evaluasi dan Pencabutan Izin Travel Umrah Bermasalah di NTB

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Dituding Menipu Jamaah Umroh di Media Sosial, Direktur PT Indah Harmoni Anugrah Laporkan Dua Akun Facebook ke Polda NTB

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:42 WIB

KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Gerbong Besar di Mabes Polri Bergerak, Suyudi Rombak 14 PJU dan Mutasi 88 Pati-Pamen

Berita Terbaru