Proyek Sekolah Rakyat Rp250 Miliar di NTB Digoyang Isu Pengondisian Tender

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perwakilan Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Penyelamat APBN (GMPPA) saat diterima oleh pejabat Direktorat Jenderal Cipta Karya di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Pertemuan tersebut membahas tuntutan mahasiswa terkait dugaan manipulasi tender proyek Sekolah Rakyat senilai Rp250 miliar di NTB. (Foto: Istimewa)

Perwakilan Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Penyelamat APBN (GMPPA) saat diterima oleh pejabat Direktorat Jenderal Cipta Karya di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Pertemuan tersebut membahas tuntutan mahasiswa terkait dugaan manipulasi tender proyek Sekolah Rakyat senilai Rp250 miliar di NTB. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Jejakdata.com – Proses lelang proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Nusa Tenggara Barat (NTB) senilai Rp250 miliar di bawah pengawasan Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi (BP2JK) wilayah NTB, menuai sorotan tajam. Proses pengadaan barang dan jasa tersebut ditengarai sarat manipulasi dan tidak transparan.

​Dugaan penyelewengan ini memicu gelombang protes dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Penyelamat APBN (GMPPA). Mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta Selatan, pada Selasa, 9 Juni 2026.

​Koordinator aksi GMPPA, Patahudin, menyatakan bahwa pihaknya mengantongi sejumlah bukti awal mengenai adanya pengondisian pemenang tender sejak tahap evaluasi administrasi.

​”Kami menerima informasi dan indikasi kuat mengenai praktik pengondisian tender, manipulasi berkas administrasi, hingga adanya intervensi untuk memenangkan korporasi tertentu,” kata Patahudin di sela-sela aksi massa.

​Patahudin menegaskan, anggaran jumbo yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut seharusnya digunakan demi mendongkrak mutu pendidikan masyarakat, bukan menjadi bancakan kelompok elite.

Baca Juga :  Kasta NTB dan Perhimpunan Pemuda Sasak Desak Kejati NTB Periksa 13 Anggota DPRD, Tim Transisi, dan Kepala BPKAD Terkait Dana Siluman

​”Jika sejak awal proses lelang sudah diakali, kualitas fisik bangunan sekolah di lapangan dipertaruhkan. Pada akhirnya, masyarakat dan anak-anak sekolah yang menjadi korban,” ujarnya menambahkan.

​Dalam aksi yang sempat diwarnai ketegangan antara massa mahasiswa dan petugas keamanan Kementerian PU tersebut, perwakilan GMPPA akhirnya ditemui oleh pejabat dari Direktorat Jenderal Cipta Karya.

​Dalam pertemuan itu, massa aksi menyodorkan tujuh tuntutan krusial. Dua di antaranya mendesak aparat penegak hukum yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, dan Polri untuk mengusut rekam jejak pengadaan yang melibatkan dua perusahaan, yaitu PT. Duta Nanggroe dan PT. Budgahar Perkasa Utama.

​Secara garis besar, berikut adalah poin-poin tuntutan yang dilayangkan:

  1. ​Meminta Kementerian PU mengaudit total proses lelang proyek Sekolah Rakyat senilai Rp241 miliar lebih di BP2JK NTB.
  2. Mendesak KPK, Kejaksaan Agung, dan Polri memeriksa dugaan manipulasi yang melibatkan PT. Duta Nanggroe dan PT. Budgahar Perkasa Utama.
  3. Membuka dokumen evaluasi tender kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas.
  4. Mencopot dan mengevaluasi oknum pejabat BP2JK NTB yang terindikasi terlibat kongkalikong.
  5. Menghentikan sementara proses lelang jika ditemukan bukti awal pelanggaran prosedur hukum.
  6. Memastikan sektor pendidikan bersih dari intervensi pemburu rente.
  7. Mengajak aktivis antikorupsi, media, dan mahasiswa untuk mengawal kasus ini.
Baca Juga :  GMPPA Endus Dugaan Monopoli Paket Proyek APBN Oleh Salah Satu Kontraktor di NTB

​Patahudin menyatakan, jika Kementerian PU tidak segera mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi jajarannya di daerah, pihaknya akan melayangkan laporan resmi ke penegak hukum. GMPPA juga berencana menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar di gedung KPK dan Kejaksaan Agung pada pekan depan.

​”Pendidikan rakyat tidak boleh dikotori oleh kepentingan segelintir elite yang mencari keuntungan pribadi dari proyek negara. Kami siap menempuh jalur konstitusional demi menyelamatkan uang rakyat,” pungkas Patahudin.(JD09)

Follow WhatsApp Channel jejakdata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA
Pucuk Pimpinan Polda Bergeser: Dadang ke Metro, Dekananto ke Jatim, Wakapolda Metro Naik ke Kursi Kapolda
Gerbong Besar di Mabes Polri Bergerak, Suyudi Rombak 14 PJU dan Mutasi 88 Pati-Pamen
Direktur Eksekutif Visi Indonesia: Suyudi Ario Seto Harus Jadikan Reformasi Polri sebagai Legacy Kepemimpinannya
Dinilai Mencekik Masyarakat, Fraksi Demokrat Keberatan Tarif Retribusi IPR Dalam Raperda
Dukung Konservasi TNGR, Unram Latih Mitra Resort Sembalun Monitoring Sampah Berbasis Digital
Perkuat Daya Saing Global, UMMAT Sambut Mahasiswa Asing dan Bidik Akreditasi Unggul
Aksi Jilid V, KPK-PD Minta Kejati dan Polda NTB Cek Fisik Bangunan Sekolah Hasil Revitalisasi di Bima
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:42 WIB

KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Pucuk Pimpinan Polda Bergeser: Dadang ke Metro, Dekananto ke Jatim, Wakapolda Metro Naik ke Kursi Kapolda

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Gerbong Besar di Mabes Polri Bergerak, Suyudi Rombak 14 PJU dan Mutasi 88 Pati-Pamen

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Direktur Eksekutif Visi Indonesia: Suyudi Ario Seto Harus Jadikan Reformasi Polri sebagai Legacy Kepemimpinannya

Rabu, 23 September 2026 - 17:18 WIB

Dukung Konservasi TNGR, Unram Latih Mitra Resort Sembalun Monitoring Sampah Berbasis Digital

Berita Terbaru

Foto: Caca Handika, SPD., MPD. Ketua Umum Badko HMI Bali-Nusra(Dok.Istimewa)

Opini

Membongkar Ketimpangan di Balik Mimpi Bima Bermartabat

Jumat, 2 Okt 2026 - 17:17 WIB