Jejakdata.com | Jakarta 31 Juli 2026 – Langkah Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai mulai menunjukkan perannya dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah perlambatan ekonomi global, sejumlah indikator ekonomi Indonesia justru bergerak ke arah yang positif.
Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI, Ir. Jailani, S.T., M.M., mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 mencapai sekitar 5,6 persen, sementara realisasi investasi telah menembus Rp1.010 triliun. Di sisi lain, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan defisit APBN tetap terjaga di kisaran 0,76 persen terhadap PDB.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi pemerintah dalam memperkuat investasi nasional mulai memberikan hasil. Salah satu langkah strategis Presiden Prabowo adalah menghadirkan Danantara sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara menjadi investasi yang produktif,” kata Jailani di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, Danantara bukan sekadar lembaga pengelola investasi, melainkan bagian dari arsitektur baru pembangunan ekonomi Indonesia. Melalui pengelolaan aset negara yang lebih profesional, pemerintah berupaya memperluas sumber pembiayaan pembangunan di luar APBN sehingga kapasitas investasi nasional dapat terus meningkat.
Jailani menjelaskan, tantangan ekonomi global kini semakin kompleks akibat ketegangan geopolitik, perang dagang, perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga pergeseran rantai pasok dunia. Dalam situasi tersebut, negara tidak dapat hanya mengandalkan belanja pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan instrumen investasi yang mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru secara berkelanjutan.
“Danantara merupakan salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut. Gagasan Presiden Prabowo bukan sekadar membentuk sebuah institusi baru, tetapi membangun mekanisme agar aset negara dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi, memperkuat hilirisasi industri, menarik investasi, serta membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Ia menilai berbagai indikator ekonomi yang menguat belum sepenuhnya dapat diatribusikan secara langsung kepada Danantara. Namun, kehadiran lembaga tersebut dinilai telah meningkatkan optimisme investor sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperbesar kapasitas investasi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Sebagai pembanding, Jailani menyebut sejumlah negara seperti Singapura, Norwegia, Uni Emirat Arab, dan Malaysia telah membuktikan bahwa lembaga investasi negara mampu menjadi motor transformasi ekonomi apabila dikelola secara profesional, independen, dan berorientasi jangka panjang.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan Danantara pada akhirnya akan ditentukan oleh kualitas tata kelola. Independensi dalam pengambilan keputusan investasi, transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, serta manajemen risiko harus terus diperkuat agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Danantara memiliki peluang menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun keberhasilannya tidak ditentukan oleh besarnya aset yang dikelola, melainkan oleh kemampuannya menciptakan investasi produktif, lapangan kerja, dan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tutup Jailani. (JD13)









