Hamdan Kasim Ditahan dan Pemeran Utama Belum Tersentuh, Gerposi Tuding Kejati NTB Main Aman di Skandal Dana Siluman

- Jurnalis

Senin, 24 November 2025 - 22:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Aksi Gerakan Pemuda Oposisi (GERPOSI) di depan Gedung Kejati NTB, 21/11/2025, Meminta Kejati Memeriksa Gubernur NTB, Atas Dugaan Sebagai Aktor Utama Dana Siluman  DPRD NTB

Foto: Aksi Gerakan Pemuda Oposisi (GERPOSI) di depan Gedung Kejati NTB, 21/11/2025, Meminta Kejati Memeriksa Gubernur NTB, Atas Dugaan Sebagai Aktor Utama Dana Siluman DPRD NTB

Jejakdata.com | Mataram 24 November 2025 – Penahanan Ketua Komisi IV DPRD NTB, Hamdan Kasim, sebagai tersangka baru dalam kasus korupsi dana siluman tidak sepenuhnya disambut sebagai keberhasilan penegakan hukum. Justru, langkah Kejati NTB menuai kritik keras dari aktivis antikorupsi.

Gerakan Pemuda Oposisi (GERPOSI) menilai penyidikan kasus ini berjalan setengah hati dan cenderung berhenti pada figur pelaksana teknis, bukan perancang utama skema korupsi.

“Penetapan tersangka ini bukan gebrakan. Ini hanya bab kecil dalam drama yang jauh lebih besar,” tegas Ketua Umum Gerposi, Ramadhan Ubba, Senin malam.

Lebih lanjut Ubba menyampaikan,

“Kejati terlihat main aman. Pemeran utama masih bebas, yang dikorbankan baru pemain pinggiran.”

Nama yang disebut Ubba yang diduga kuat Menjadi Aktor aktor utama bukan figur baru dalam rumor publik yaitu Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, yang disebut memiliki kewenangan, akses, dan kontrol penuh terhadap perencanaan anggaran ketika dana siluman muncul dalam dokumen APBD.

Baca Juga :  PW SEMMI NTB Apresiasi Ketegasan Kapolda NTB Irjen Pol Edy Murbowo: Pemberantasan Narkoba Wujud Nyata Asta Cita Presiden Prabowo Subianto

Hamdan datang ke Kejati NTB dengan status saksi, namun keluar sebagai tersangka dan langsung ditahan. Prosedur ini dipastikan oleh Aspidsus Kejati NTB, Muh. Zulkifli Said.

“Setelah pemeriksaan dan ekspose perkara, statusnya ditingkatkan menjadi tersangka dan dilakukan penahanan,” ujarnya.

Hamdan dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor karena diduga menerima aliran dana gelap dalam distribusi anggaran yang tidak pernah tercatat sebagai belanja resmi negara.

Sebelumnya, dua figur lain telah diciduk yaitu Indra Jaya Usman (IJU) dan Muhammad Nashib Ikroman, yang oleh penyidik diduga sebagai distributor uang kepada anggota DPRD lainnya.

Dalam rilis resminya, GERPOSI mempertanyakan alasan penyidik belum menyentuh pihak yang memiliki otoritas menyusun anggaran, akses pengaturan nomenklatur, posisi eksekutif saat anggaran itu muncul, serta keuntungan politik.

“Semua alurnya mengarah ke satu titik. Tapi Kejati seolah berhenti di pintu. Apakah ada intervensi? Atau ada kompromi politik?” kata Ubba.

Baca Juga :  Jalan Sehat Hultah Madrasah NWDI ke 90, 5 Peserta Beruntung Raih Hadiah Umrah

Ia juga menyebut bahwa pola seperti ini berbahaya karena berpotensi melahirkan koruptor teknis sebagai tumbal, sementara koruptor strategis tetap aman di balik meja politik.”

Gerposi menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Bila dalam waktu 30 hari tidak ada perkembangan signifikan, terutama terkait pemanggilan figur utama, pihaknya akan mendorong Supervisi resmi ke KPK atau permintaan pengambilalihan penyidikan

“Kalau Kejati tidak berani, biarkan KPK yang turun. Agar NTB benar-benar terbebas dari para koruptor”

Kasus ini bermula dari surat perintah penyelidikan PRINT-09/N.2/Fd.1/07/2025 tertanggal 10 Juli 2025. Setelah empat bulan, tiga orang kini resmi tersangka, namun kunci utama pengungkapan masih berada di luar garis tembak.

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa tersangka berikutnya.Pertanyaannya adalah apakah Kejati siap melangkah melampaui orang-orang yang hanya menjalankan perintah, menuju mereka yang mengeluarkan perintah itu?

Jejakdata.com akan terus mengawal dan Mengabarkan informasi untuk anda. (JD13)

Follow WhatsApp Channel jejakdata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Badko HMI Bali Nusra Desak Evaluasi dan Pencabutan Izin Travel Umrah Bermasalah di NTB
Dituding Menipu Jamaah Umroh di Media Sosial, Direktur PT Indah Harmoni Anugrah Laporkan Dua Akun Facebook ke Polda NTB
Rusdiansyah: Klaim Refly Harun Soal “Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah” Distorsi Pertimbangan MK
KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA
Pucuk Pimpinan Polda Bergeser: Dadang ke Metro, Dekananto ke Jatim, Wakapolda Metro Naik ke Kursi Kapolda
Gerbong Besar di Mabes Polri Bergerak, Suyudi Rombak 14 PJU dan Mutasi 88 Pati-Pamen
Direktur Eksekutif Visi Indonesia: Suyudi Ario Seto Harus Jadikan Reformasi Polri sebagai Legacy Kepemimpinannya
Dinilai Mencekik Masyarakat, Fraksi Demokrat Keberatan Tarif Retribusi IPR Dalam Raperda
Berita ini 129 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Badko HMI Bali Nusra Desak Evaluasi dan Pencabutan Izin Travel Umrah Bermasalah di NTB

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Dituding Menipu Jamaah Umroh di Media Sosial, Direktur PT Indah Harmoni Anugrah Laporkan Dua Akun Facebook ke Polda NTB

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:50 WIB

Rusdiansyah: Klaim Refly Harun Soal “Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah” Distorsi Pertimbangan MK

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:42 WIB

KSBSI NTB Desak Ponpes Imam Safi’i Bima Bayar Pesangon Guru Berdasarkan Putusan MA

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Pucuk Pimpinan Polda Bergeser: Dadang ke Metro, Dekananto ke Jatim, Wakapolda Metro Naik ke Kursi Kapolda

Berita Terbaru