Oleh : Caca Handika, SPD., MPD
Mataram, Jejakdata.com – Jum,at, 2 Oktober 2026. Di tengah narasi besar “Bima Bermartabat” Ternyata hanyalah mimpi di siang bolong, mungkin itu adalah jawaban yang paling tepat untuk di sematkan pada era kepemimpinan Ady-Irfan.
Betapa tidak, Pemerintah yang harusnya menjamin kesejahteraan masayarakat justru menjadi penonton ketika mendengar masyarakat teriak minta tolong dikala motor dan mobilnya jatuh dan terguling karena jembatanya rusak, masayarakat yang teriak ninta bantuan kerena sawah dan rumahnya terbawa banjir, Tapi di sisi lain teriakan itu seolah kabur dan tak terdengar. Terus sampai kapan mereka akan jadi penonton?
Baru-baru ini masyarakat dari berbagai pelosok berbondong-bondong memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak untuk memperlancar berbagai akses mereka. Mirisnya, perbaikan jalan yang rusak tersebut adalah hasil dari swadaya dan gotong royong masyarakat itu sendiri. Lalu wakil rakyatnya duduk santai sambil tepuk tangan. Kita mesti bertanya? Sebenarnya keberadaan mereka untuk apa dan berbuat untuk siapa?
Akhir-akhir ini bisa kita lihat sejauh mana ikhtiar pemerintah Kabupaten Bima dalam melakukan pemerataan pembangunan di berbagai sektor, baik di sektor Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, Kelautan dll. Jawabanya sederhana, belum nampak secara jelas! Lalu apa yang menjadi catatan di setiap selasa menyapa?
Mestinya narasi pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat melalui selasa menyapa tidak boleh berhenti pada simbol tagline semata, melainkan harus berdampak nyata bagi keberlangsungan masyarakat. Langkah tersebut harus di mulai dengan keberanian.!
Sebab kedepannya tantangan terbesar pemerintah bukan hanya sekedar pemperbaiki tata kelola kepemerintahan tapi bagaimana memastikan manfaat dari tata kelola tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai pelosok.
#BIMA GELAP
(JD09)









