Mengurai Benang Kusut Diagnosis Medis Pasien Rujukan Bima-Dompu di RSUD NTB

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 00:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Direktur RSUD Provinsi NTB dr. Asrul Sani (kiri) bersama Anggota Komisi V DPRD NTB Nadirah, Akademisi UNBIM Alfisahrin, dan Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbas saat menjadi pembicara dalam dialog publik yang digelar GAKADA BIDOM di Hangout Coffee, Senin, 3 Agustus 2026. Forum ini membahas isu dugaan ketidaksesuaian diagnosis medis pada pasien rujukan asal Bima dan Dompu.(JD09)

Foto: Direktur RSUD Provinsi NTB dr. Asrul Sani (kiri) bersama Anggota Komisi V DPRD NTB Nadirah, Akademisi UNBIM Alfisahrin, dan Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbas saat menjadi pembicara dalam dialog publik yang digelar GAKADA BIDOM di Hangout Coffee, Senin, 3 Agustus 2026. Forum ini membahas isu dugaan ketidaksesuaian diagnosis medis pada pasien rujukan asal Bima dan Dompu.(JD09)

Mataram, Jejakdata.com – Persoalan pelayanan kesehatan di kawasan Nusa Tenggara Barat kembali menuai sorotan publik. Kali ini, dugaan ketidaksesuaian penegakan diagnosis pada pasien rujukan asal Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu menjadi pemantik diskusi hangat dalam forum dialog publik yang digagas Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA BIDOM) Pulau Lombok di Mataram, Senin malam (3/8/2026).

​Isu ini mencuat lantaran adanya dinamika penanganan medis yang dirasakan keluarga pasien, diagnosis yang ditetapkan di rumah sakit daerah kerap mengalami penyesuaian atau perubahan signifikan saat pasien tiba dan ditangani di RSUD Provinsi NTB.

​Ketua Umum GAKADA BIDOM, Arif Kurniadin, menegaskan bahwa gerakan yang dibangun organisasinya berangkat dari fakta lapangan serta aduan riil yang diterima dari pihak keluarga pasien rujukan. Kesenjangan informasi medis ini, menurut Arif, berpotensi mengancam keselamatan jiwa jika tidak dikawal secara serius.

​Arif mengungkapkan, sebelum menggelar dialog tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemangku kebijakan lintas daerah, termasuk Lembaga Pengawas Pelayanan Publik, Ombudsman RI Perwakilan NTB. Dari hasil koordinasi tersebut, Ombudsman mengonfirmasi bahwa laporan masyarakat terkait persoalan rujukan dan penegakan diagnosis medis memang sedang dalam proses penanganan.

​”Langkah ini kami ambil agar isu yang berkembang tidak menjadi liar atau dianggap spekulatif semata. Adanya proses di Ombudsman membuktikan bahwa keresahan ini nyata, dan kita perlu mengawalnya secara rasional, objektif, demi perbaikan sistem kesehatan masyarakat,” tegas Arif.

Baca Juga :  Dari Bos Perumda Air Minum ke Kursi Bupati, Lalu Ahmad Zaini Terjaring OTT KPK, Berapa Hartanya?

​Merespons gelombang aspirasi tersebut, Direktur RSUD Provinsi NTB, dr. Asrul Sani, memberikan klarifikasi teknis dari perspektif medis dan operasional. Ia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menilai perubahan diagnosis sebagai bentuk kelalaian ataupun ketidakprofesionalan tenaga kesehatan.

​Asrul menjelaskan, penegakan diagnosis merupakan proses dinamis yang dipengaruhi banyak variabel empiris. Di antaranya adalah riwayat informasi medis dari pasien yang kerap belum utuh, keterbatasan sarana laboratorium diagnostik di faskes daerah, hingga penyesuaian atas kondisi klinis pasien yang dapat berubah selama perjalanan rujukan jarak jauh.

​”Tenaga medis bekerja terikat kode etik profesi, di mana keselamatan dan kesembuhan pasien adalah prioritas utama. Perbedaan penanganan kerap terjadi karena RSUD Provinsi memiliki fasilitas pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap. Untuk penyakit yang kompleks, kami pun menyarankan opsi second opinion (pendapat medis kedua) demi kepastian tindakan,” papar Asrul.

​Ia merinci, sepanjang tahun 2025 saja, RSUD Provinsi NTB melayani lebih dari 300 ribu kasus rujukan, di mana wilayah Bima dan Dompu menyumbang porsi ribuan pasien. Kasus terbanyak yang dirujuk mencakup penyakit prioritas nasional, seperti hipertensi dan anemia pada layanan darurat, serta kanker payudara hingga urologi pada layanan rawat jalan.

​Dari kacamata pengawasan dan penganggaran, Anggota Komisi V DPRD NTB, Nadirah Alhabsy, menilai ketimpangan diagnosis ini membuka tabir persoalan yang lebih mendasar, yakni belum meratanya ketersediaan alat kesehatan mutakhir dan dokter spesialis di daerah.

Baca Juga :  Usung “Mercusuar HMI”, Hakim Bima Persada Siap Bawa Arah Baru HMI Mataram

​”Kita tidak bisa membebankan masalah ini sepenuhnya kepada nakes di lapangan. Rumah sakit di Bima dan Dompu butuh peremajaan alat medis serta penambahan dokter spesialis agar akurasi pemeriksaan awal bisa optimal. DPRD NTB siap mendukung alokasi anggaran dan penyusunan regulasi demi menjamin mutu layanan medis di seluruh kabupaten/kota,” ujar Nadirah.

​Sementara itu, dari ranah akademis, akademisi Universitas Bima Internasional (UNBIM), Alfisahrin, mengajak semua pihak untuk melihat persoalan ini secara berimbang melalui kacamata antropologi kesehatan. Menurutnya, tantangan komunikasi antara bahasa awam pasien (illness) dan terminologi ilmiah dokter (disease) sering kali menjadi celah timbulnya mispersepsi diagnosis.

​”Keberhasilan RSUD Provinsi dalam mengoreksi atau mempertajam diagnosis semestinya tidak dijadikan panggung untuk saling menyalahkan. Momen ini harus menjadi daya dorong bagi pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur medis di wilayah asal rujukan, sehingga masyarakat mendapatkan mutu layanan yang setara,” ungkap Alfisahrin.

​Melalui dialog multidimensi ini, para pihak menyepakati satu muara perbaikan koordinasi sistemik antar-fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas sarana di tingkat kabupaten, serta jaminan transparansi komunikasi medis kepada keluarga pasien demi menjaga keselamatan jiwa masyarakat NTB. (JD09)

Follow WhatsApp Channel jejakdata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GERPOSI Minta Polda NTB Bentuk Tim Khusus Usut Dana Pokir Isvie dan Muzihir
Badko HMI Bali-Nusra Layangkan Mosi Tidak Percaya ke Kejati, Alihkan Laporan Mafia Tanah Pantai Amahami ke Polda NTB
Anggota DPRD NTB Raihan Anwar Apresiasi Kelulusan Cum Laude Dokter Spesialis Jantung dr. Ika Caesarina
Gubernur NTB Minta RUU Reforma Agraria Akomodasi Kekhasan Provinsi Kepulauan
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Diadukan ke KPK soal Pergeseran Anggaran BTT Rp500 Miliar
Nazaruddin Resmi Pimpin DPD NasDem Kabupaten Bima Periode 2026–2031
Suharto: SWRO Mahal, Gili Trawangan Butuh Pipa Bawah Laut
Fathul Gani: SPPG Abaikan Waktu Distribusi, Dugaan Keracunan MBG Mencuat di Lombok Tengah
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:19 WIB

GERPOSI Minta Polda NTB Bentuk Tim Khusus Usut Dana Pokir Isvie dan Muzihir

Kamis, 17 September 2026 - 21:55 WIB

Badko HMI Bali-Nusra Layangkan Mosi Tidak Percaya ke Kejati, Alihkan Laporan Mafia Tanah Pantai Amahami ke Polda NTB

Kamis, 17 September 2026 - 15:44 WIB

Anggota DPRD NTB Raihan Anwar Apresiasi Kelulusan Cum Laude Dokter Spesialis Jantung dr. Ika Caesarina

Rabu, 16 September 2026 - 17:41 WIB

Gubernur NTB Minta RUU Reforma Agraria Akomodasi Kekhasan Provinsi Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 13:25 WIB

Nazaruddin Resmi Pimpin DPD NasDem Kabupaten Bima Periode 2026–2031

Berita Terbaru