Lombok Barat, Jejakdata.com – Kebiasaan membuang dan membakar sampah rumah tangga masih menjadi persoalan lingkungan di Dusun Sengkongo, Desa Kuranji, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Secara geografis, Sengkongo masih berada di areal dekat TPA Kebun Kongok. Kondisi tersebut mendorong tim dosen Universitas Mataram (Unram) melakukan pengabdian masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat berjudul “Penguatan Civic Virtue dan Komitmen Ecological Citizenship melalui Pengelolaan Sampah Dapur Berbasis Biokonversi Black Soldier Fly (BSF)”.
Program ini dirancang melalui beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Kegiatan diawali dengan melaksanakan sosialisasi pada 1 Juli 2026, sebanyak 25 ibu-ibu bersama kepala wilayah, tetua adat, dan tokoh agama. Dalam kegiatan awal tersebut, tim pengabdian memberikan pemahaman mengenai jenis-jenis sampah, dampak sampah terhadap lingkungan, serta cara pengelolaannya.

Hasil diskusi memperlihatkan persoalan mendasar, yaitu sebagian besar warga belum terbiasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Selain itu, dusun belum memiliki fasilitas pengangkutan sampah maupun kerja sama pengangkutan sampah dengan pihak lain. Dalam kondisi tersebut, warga selama ini cenderung membuang sampah ke kebun atau melakukan pembakaran terbuka. Kebiasaan membakar sampah tersebut menimbulkan asap yang berbahaya bagi kesehatan.
“Persoalan sampah ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan dan tanggung jawab warga terhadap lingkungan,” kata Ketua Tim Pengabdian Unram, Dr. I Nengah Agus Tripayana, M.Pd.
Menurutnya, karena itu pengelolaan sampah dalam program tersebut tidak hanya diperkenalkan melalui teknologi, tetapi juga dikaitkan dengan penguatan civic virtue dan ecological citizenship. Tahap berikutnya dilakukan melalui praktik langsung.
Pada kegiatan selanjutnya, warga diminta membawa sampah rumah tangga untuk kemudian dimasukkan ke unit maggot yang telah disiapkan oleh tim. Bagi sebagian warga, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru. Mereka merasa heran sekaligus terkejut ketika melihat sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan bagi larva BSF. Melalui praktik tersebut, warga diperkenalkan pada alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga atau komunitas. Sampah dapur yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan melalui proses biokonversi.
Pada tahap selanjutnya, tim membagikan maggot beserta perangkatnya kepada warga untuk dibawa pulang dan mempraktikkan pengelolaan sampah menggunakan maggot di rumah masing-masing. Selanjutnya, maggot yang sudah dewasa dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan atau ternak, sedangkan residu pengolahan atau kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik. Dengan demikian, sampah dapur tidak lagi semata-mata dipandang sebagai residu, tetapi berpotensi masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan sumber daya.
Program pengabdian ini melibatkan dosen-dosen Unram, seperti:
-
Dr. I Nengah Agus Tripayana, M.Pd. (Ketua Tim)
-
Dr. Edy Herianto, M.Ed.
-
Hj. Yuliatin, S.Pd., MH.
-
Dr. Candra, M.Pd.
-
Basariah, S.Pd., M.Pd.
-
Dr. Fitriah Artina, S.Pd., M.Pd.
-
Serta mahasiswa Khairul Imam dan Neyna Deasy Lestari.
Selain memperkenalkan teknologi BSF, kegiatan diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah sampah, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Ke depan, kegiatan akan dilanjutkan melalui pendampingan dan monitoring terhadap pengelolaan unit BSF, pemilahan sampah, partisipasi warga, serta pemanfaatan hasil biokonversi. Maggot yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ikan atau ternak, sementara residu pengolahan atau kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta berkaitan dengan SDG 11 tentang permukiman berkelanjutan dan SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Melalui kegiatan tersebut, Unram mendorong agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada pemindahan sampah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di sumber sampah, yaitu rumah tangga.(JD09)









