Mataram, Jejakdata.com – Selasa, 4 Agustus 2026. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Nusa Tenggara Barat menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, dr. Asrul Sani. Apresiasi tersebut diberikan atas keteladanan dan keterbukaan sikap sang birokrat yang bersedia hadir secara langsung dalam ruang diskusi kritis bersama elemen pemuda dan aktivis.
Sikap adaptif dan akuntabel tersebut ditunjukkan dr. Asrul Sani saat menghadiri forum Dialog Publik bertajuk “Diagnosis Berbeda, Nyawa Dipertaruhkan? Bedah Ilmiah Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis pada Pasien Rujukan dari Bima-Dompu ke RSUP NTB”. Forum yang diinisiasi oleh Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA) Pulau Lombok ini berlangsung di Hangout Coffee, Kota Mataram, pada Senin (3/8/2026) malam.

Sekretaris DPD KNPI NTB, Ardiansyah, menilai kehadiran pimpinan tertinggi RSUD Provinsi NTB di tengah forum mahasiswa dan organisasi kepemudaan (OKP) merupakan pemandangan yang tergolong langka dalam dinamika pemerintahan daerah saat ini. Langkah ini dipandang menjadi momen penting di tengah kecenderungan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap transparansi birokrasi Pemerintah Provinsi NTB.
“KNPI NTB memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Sangat jarang, bahkan hampir tidak ada pejabat setingkat direktur atau kepala dinas di Pemprov NTB yang memiliki keberanian moral dan kesediaan hadir sebagai narasumber dalam kegiatan-kegiatan ilmiah kritis yang digagas elemen pemuda,” ujar Ardiansyah yang akrab disapa Sangaji saat memberikan keterangannya di Mataram.
Sangaji menyayangkan fenomena eksklusivitas pejabat Pemprov NTB yang dinilainya kerap menghindari ruang dialog dengan elemen masyarakat sipil.
“Kami sempat heran dengan fenomena pejabat-pejabat Pemprov NTB yang belakangan ini setiap diundang selalu menolak hadir, bahkan cenderung menghindari pertemuan dengan pemuda maupun OKP. Ada apa sebenarnya dengan para pejabat ini? Sikap alergi dialog inilah yang sebenarnya menciptakan sekat serta jurang pemisah (gap) antara negara dan masyarakat,” tegasnya.
Namun demikian, Sangaji menambahkan bahwa keberanian dr. Asrul Sani untuk hadir, memberikan klarifikasi medis secara akuntabel, serta mendengarkan aspirasi publik secara langsung berhasil mengikis stigma negatif terhadap birokrasi daerah. Kehadirannya tidak hanya membedah isu teknis medis mengenai ketidaksesuaian diagnosis pasien rujukan Bima-Dompu secara ilmiah, tetapi juga mengembalikan keyakinan publik akan keberadaan pejabat publik yang responsif.
“Hadirnya Pak Direktur RSUP malam tadi mampu memberikan keyakinan baru bagi kami bahwa masih ada pejabat di daerah ini yang mau duduk bersama, berdialog secara setara, dan siap diuji secara ilmiah oleh elemen pemuda. Di situlah KNPI NTB menaruh rasa hormat dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada beliau,” tutup Sangaji.
DPD KNPI NTB berharap teladan keterbukaan informasi dan akuntabilitas publik yang ditunjukkan oleh Direktur RSUD Provinsi NTB ini dapat menjadi acuan bagi pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya di lingkungan Pemprov NTB dalam menjalin sinergi serta komunikasi konstruktif demi kemajuan daerah. (JD09)









