Desa Sade, yang selama ini menjadi detak jantung pariwisata budaya Suku Sasak, baru saja diamuk si jago merah. Insiden ini tak hanya menghanguskan harta benda, tetapi juga mengancam kelestarian deretan rumah adat beratap alang-alang yang telah berdiri melintasi banyak generasi.
Di tengah kerumunan warga yang masih diselimuti trauma, Indah menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam. “Kejadian ini adalah duka kita bersama. Pemerintah Provinsi NTB tidak akan membiarkan masyarakat Sade berjuang sendirian di masa sulit ini,” ujarnya seraya menyusuri lorong-lorong sempit desa yang sebagian kini menghitam menjadi abu.
Kunjungan tersebut langsung diiringi dengan penyerahan uluran bantuan tanggap darurat. Paket logistik, selimut, tenda darurat, hingga kebutuhan pokok didistribusikan ke posko pengungsian sementara. Indah menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini terbagi menjadi dua fase krusial, pemenuhan kebutuhan dasar para korban yang terdampak dan asesmen kerugian fisik untuk tahap rekonstruksi.
Bagi Indah, pemulihan Desa Sade jelas membutuhkan pendekatan khusus. Mengingat statusnya sebagai kawasan cagar budaya hidup, pembangunan kembali tidak bisa dilakukan secara serampangan menggunakan material modern. Ia menginstruksikan dinas terkait untuk segera memetakan skala kerusakan rumah adat Bale Tani dan merumuskan skema bantuan perbaikan yang tetap mempertahankan nilai arsitektur vernakular Sasak.
“Sade adalah wajah pariwisata dan identitas budaya NTB. Kita akan bergotong royong mengembalikan senyum warga dan memastikan desa ini kembali berdiri kokoh seperti sedia kala,” tambah Indah.
Langkah cepat Wakil Gubernur ini diharapkan mampu menjadi pelipur lara sekaligus motor penggerak solidaritas bagi berbagai pihak baik pemerintah daerah, sektor swasta, maupun relawan independen untuk turut serta mempercepat roda pemulihan di salah satu desa paling ikonik di Pulau Seribu Masjid tersebut. Pembangunan kembali Sade kini bukan sekadar soal mendirikan rumah, melainkan merawat warisan.(JD88)