Mataram, Jejakdata.com – Langkah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026–2030 menuai sorotan. Minimnya pengalaman dalam kepengurusan cabang olahraga (cabor) menjadi catatan kritis utama yang mengiringi pendaftarannya.
Direktur Eksekutif Komite Investigasi Nusantara (KIN) NTB, Sugeng, menilai Iqbal tak memiliki riwayat kepemimpinan maupun keterlibatan teknis dalam pembinaan cabor di daerah. Menurutnya, syarat pengalaman tersebut penting agar Ketua KONI memahami dinamika manajerial kejuaraan hingga persoalan atlet di lapangan.
“Iqbal tidak pernah mengurus dan memimpin cabor selama ini. Langkah ini terkesan memaksakan kehendak dan menabrak aturan,” ujar Sugeng dalam keterangannya, Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia mendesak Iqbal mengundurkan diri dari bursa pencalonan dan berkonsentrasi pada tata kelola pemerintahan daerah.
Sugeng menambahkan, kesiapan NTB sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 bersama Nusa Tenggara Timur membutuhkan figur yang paham substansi olahraga. “PON 2028 bukan sekadar kebijakan teknis anggaran, melainkan pembinaan cabor dan atlet. Pada sisi ini, Iqbal belum layak,” katanya.
Iqbal resmi menyerahkan berkas pendaftaran ke Sekretariat KONI NTB untuk menantang petahana Mori Hanafi. Meski diklaim telah mengantongi dukungan dari sejumlah KONI kabupaten/kota serta Pengurus Provinsi cabor, latar belakangnya yang murni dari birokrasi terus dipersoalkan.
Di sisi lain, tim pendukung Iqbal menegaskan bahwa kapasitas manajerial dan daya tawar politik-birokrasi kepala daerah justru menjadi modal krusial. Kehadiran figur gubernur dinilai strategis untuk mengamankan dukungan anggaran daerah serta percepatan pembangunan infrastruktur olahraga menjelang PON 2028.(JD09)









