Mataram, Jejakdata.com – Senin, 24 Agustus 2026. Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Mataram mengecam keras dugaan aksi kekerasan dan pengeroyokan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Insiden berdarah yang menelan tujuh korban luka tersebut berlangsung di tengah kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kericuhan dipicu oleh ulah salah satu oknum mahasiswa yang diduga memprovokasi korban dengan kata-kata kasar. Provokasi tersebut memicu amarah hingga bentrok fisik tak terhindarkan.
Dimas, salah seorang mahasiswa UIN Mataram yang berada di lokasi kejadian, menuturkan bahwa bentrokan tersebut mengakibatkan tujuh orang mahasiswa mengalami luka-luka. Dua di antaranya terkena sabetan senjata tajam, sementara lima lainnya menjadi korban pengeroyokan.
“Korban 7 orang, terdiri dari 2 orang terkena benda tajam dan 5 orang lainnya luka-luka karena pengeroyokan,” ujar Dimas.
Menanggapi peristiwa tersebut, Sekretaris Bidang Hikmah PC IMM Kota Mataram, Ahmad Farurozy, menyayangkan terjadinya aksi kekerasan di institusi pendidikan tinggi. Menurutnya, tindakan un-intelektual semacam itu sangat mencoreng nama baik UIN Mataram yang selama ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Sangat disayangkan aksi tidak intelektual ini terjadi di ranah pendidikan, tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar, mendidik, dan berkreasi bagi mahasiswa,” tegas Ahmad Farurozy saat memberikan keterangan resmi.
Ahmad pun mendesak pihak rektorat untuk segera menindak tegas para pelaku dan tidak membiarkan tindak premanisme tumbuh subur di dalam lingkungan kampus. Ia menyoroti sistem keamanan kampus yang dinilai lemah hingga senjata tajam bisa masuk dalam area kegiatan PBAK.
“Kami mendesak Rektor UIN Mataram untuk segera mengambil langkah bijaksana dan memberikan sanksi administratif tegas terhadap terduga pelaku pemukulan. Selain itu, keamanan kampus harus dievaluasi total agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tambahnya.
Pasca-insiden kekerasan pada Kamis sore, ketujuh korban didampingi sejumlah saksi resmi melaporkan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan tersebut ke Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mataram. Langkah hukum ini diambil guna mencegah eskalasi konflik horizontal antar-kelompok mahasiswa di kemudian hari.
Ahmad Farurozy meminta Kapolresta Mataram beserta jajaran penyidik untuk responsif dan profesional dalam mengusut tuntas perkara pidana ini demi memberikan keadilan dan pemulihan bagi para korban.
“Kami meminta Kapolresta Mataram untuk menindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan penyelidikan secara profesional untuk memberikan keadilan serta pemulihan bagi korban,” ujar Ahmad.
IMM Kota Mataram juga melontarkan peringatan keras apabila penanganan kasus ini berjalan lambat. “Apabila kasus ini tidak diusut tuntas dan tidak memberikan keadilan oleh Polresta Mataram, kami pastikan PC IMM Kota Mataram akan mengambil langkah tegas dalam menangani masalah ini,” pungkasnya. (JD88)









