Oleh: Didi Muliadin, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial dan Politik NTB
Dompu, Jejakdata.com- Minggu, 13 Desember 2026. Di gawai yang digenggam hampir setiap detik, media sosial telah menjadi jendela dunia. Namun, pada saat yang sama, ia juga dapat berubah menjadi penjara pikiran ketika informasi dikonsumsi tanpa nalar kritis.
Di ruang digital itu, narasi antagonis tumbuh dan menyebar begitu cepat. Ia tidak hadir dengan seragam militer atau suara komando. Ia datang dalam bentuk opini, potongan informasi, judul provokatif, video tanpa konteks, bahkan komentar yang dibungkus seolah-olah sebagai kebenaran.
Narasi semacam ini dapat membelah masyarakat, menanamkan kebencian, membangun kecurigaan, dan mengubah ruang publik menjadi arena pertarungan tanpa akhir.
Di tengah derasnya arus tersebut, mahasiswa dan kaum terdidik memiliki posisi penting. Mereka tidak semestinya menjadi bagian dari kerumunan yang ikut memperbesar konflik. Sebaliknya, mereka harus hadir sebagai pelita yang membantu masyarakat membedakan fakta dari fitnah, kritik dari kebencian, serta perbedaan dari permusuhan.
Apa Itu Narasi Antagonis?
Narasi antagonis adalah pola cerita yang membangun pertentangan secara tajam dengan menempatkan satu pihak sebagai pihak yang selalu benar dan pihak lain sebagai pihak yang selalu salah atau jahat.
Narasi ini biasanya memiliki sejumlah ciri.
Pertama, dunia dibelah secara sederhana menjadi “kami yang benar” dan “mereka yang salah.”
Kedua, persoalan yang sesungguhnya kompleks disederhanakan menjadi dua kutub yang saling berhadapan, seolah tidak ada ruang untuk dialog, koreksi, atau jalan tengah.
Ketiga, emosi seperti kemarahan, ketakutan, kebencian, dan rasa tersinggung ditempatkan di atas akal sehat.
Keempat, fakta dan konteks sering diabaikan. Tuduhan lebih cepat disebarkan daripada proses pembuktian.
Kelima, narasi tersebut pada akhirnya digunakan untuk membangun permusuhan, melemahkan kelompok tertentu, atau menguasai opini publik.
Media sosial menjadi lahan yang sangat subur bagi narasi semacam ini karena popularitas sebuah informasi sering kali ditentukan oleh kemampuannya membangkitkan emosi. Konten yang membuat orang marah atau tersinggung dapat menyebar jauh lebih cepat daripada informasi yang membutuhkan waktu untuk dipahami.
Di sinilah persoalannya: kebenaran tidak boleh diukur berdasarkan jumlah orang yang membagikannya.
Mahasiswa dan Kaum Terdidik: Penjaga Kewarasan
Ketika sebagian masyarakat terbawa arus emosi dan tergoda menghakimi hanya berdasarkan potongan informasi, mahasiswa dan kaum terdidik harus berani berhenti sejenak untuk berpikir.
Mereka harus memahami bahwa hampir setiap persoalan memiliki banyak sisi. Tidak semua persoalan dapat dibaca dengan kacamata hitam dan putih. Menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan cerita yang belum terverifikasi bukanlah bentuk keberanian, melainkan dapat menjadi bentuk ketidakadilan.
Narasi antagonis berkembang ketika kemampuan berpikir kritis melemah. Karena itu, tugas kaum terdidik bukan sekadar menjadi orang yang memiliki ijazah, tetapi menjadi kelompok yang mampu menjaga kewarasan publik.
Verifikator Fakta, Bukan Pengikut Opini
Di tengah derasnya informasi, kemampuan melakukan verifikasi menjadi semakin penting.
Mahasiswa dan kaum terdidik harus membiasakan diri untuk memeriksa sebelum membagikan, menelusuri sumber sebelum menilai, dan memahami konteks sebelum berpendapat.
Jangan menyebarkan tuduhan hanya karena tuduhan itu sesuai dengan keyakinan pribadi. Jangan pula menganggap sesuatu sebagai benar hanya karena disampaikan oleh tokoh atau kelompok yang kita dukung.
Kebenaran tidak mengenal kubu.
Jika sebuah fakta menguntungkan pihak yang kita sukai, ia tetap harus diverifikasi. Jika sebuah fakta merugikan pihak yang kita dukung, ia juga tetap harus diterima apabila memang terbukti benar.
Sebab tujuan berpikir kritis bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan menemukan kebenaran.
Menjadi Jembatan, Bukan Pemicu Perpecahan
Narasi antagonis selalu membutuhkan musuh. Ia tumbuh dengan cara membangun jarak antara “kita” dan “mereka”.
Karena itu, mahasiswa dan kaum terdidik harus mengambil posisi yang berbeda: menjadi jembatan pemahaman, bukan tembok pemisah.
Berbeda pendapat bukan berarti harus bermusuhan.
Mengkritik bukan berarti membenci.
Tidak setuju bukan berarti harus menghina.
Kita dapat mengatakan, “Saya tidak setuju dengan pendapatmu, tetapi saya tetap menghormati hakmu untuk berbeda pendapat.”
Sikap semacam itu penting dalam demokrasi. Sebab demokrasi tidak dibangun dari keseragaman pikiran, tetapi dari kemampuan masyarakat mengelola perbedaan secara dewasa.
Menolak Penyederhanaan Masalah yang Menyesatkan
Masalah bangsa, politik, hukum, dan sosial hampir selalu memiliki akar yang kompleks.
Namun narasi antagonis sering menyederhanakannya menjadi satu kambing hitam: semuanya karena pihak X, kelompok Y, atau tokoh Z.
Penyederhanaan semacam ini berbahaya karena membuat masyarakat berhenti mencari akar persoalan.
Mahasiswa dan kaum terdidik harus berani membongkar persoalan secara lebih utuh. Mereka perlu melihat kebijakan, struktur kekuasaan, kepentingan ekonomi, kondisi sosial, serta faktor lain yang mungkin memengaruhi sebuah peristiwa.
Kebenaran tidak selalu berada di sisi yang paling keras bersuara.
Dan kebenaran hampir tidak pernah sesederhana apa yang dituliskan dalam satu unggahan atau beberapa baris komentar.
Mendidik Masyarakat tentang Bahaya Narasi
Perlawanan terhadap narasi antagonis tidak cukup dilakukan oleh segelintir orang.
Kaum terdidik memiliki tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan masyarakat. Mereka harus mengajarkan bagaimana membaca informasi secara kritis, mengenali manipulasi konteks, memeriksa sumber, serta memahami bahwa algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus-menerus melihat informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri.
Masyarakat harus disadarkan bahwa tidak semua informasi yang viral adalah benar dan tidak semua informasi yang membuat kita marah layak untuk segera dibagikan.
Kesadaran publik adalah benteng terbaik menghadapi manipulasi informasi.
Sebab ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk memeriksa fakta, kebohongan dapat terdengar seperti kebenaran hanya karena diulang berkali-kali.
Diamnya Kaum Terdidik Adalah Masalah
Yang lebih berbahaya bukan hanya banyaknya narasi kebencian, tetapi ketika mereka yang memahami persoalan memilih diam.
Ketika orang-orang yang memiliki pengetahuan tidak bersuara, ruang publik akan lebih mudah dipenuhi oleh suara yang paling keras, bukan suara yang paling benar.
Karena itu, mahasiswa dan kaum terdidik tidak boleh menyerahkan ruang publik sepenuhnya kepada mereka yang menjadikan kemarahan sebagai bahan bakar komunikasi.
Bersuara bukan berarti harus berteriak.
Mengkritik tidak harus menghina.
Melawan tidak harus membenci.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghadirkan argumentasi, data, fakta, dan perspektif yang sehat.
Berpikir Kritis Adalah Bentuk Patriotisme
Narasi antagonis tidak akan runtuh jika kebencian dibalas dengan kebencian.
Ia justru akan semakin kuat.
Narasi kebencian hanya dapat dilawan dengan masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis, keberanian memeriksa fakta, dan kematangan dalam menghadapi perbedaan.
Karena itu, berpikir kritis sesungguhnya merupakan salah satu bentuk patriotisme.
Memilih kebenaran di atas kepentingan.
Memilih fakta di atas propaganda.
Memilih dialog di atas permusuhan.
Memilih persatuan di atas kebencian.
Mahasiswa dan kaum terdidik bukan sekadar pemegang ijazah. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar ruang publik tetap menjadi tempat pertukaran gagasan, bukan arena pembantaian karakter.
Media sosial diciptakan untuk menghubungkan manusia. Jangan sampai ia berubah menjadi ladang permusuhan yang memakan persaudaraan kita sendiri.
Melawan narasi antagonis bukan berarti melarang kritik. Justru sebaliknya, kritik harus tetap hidup. Yang harus ditolak adalah kritik yang kehilangan fakta, argumentasi yang berubah menjadi fitnah, serta perbedaan pendapat yang sengaja dipelintir menjadi permusuhan.
Pada akhirnya, kebencian yang ditanam di layar dapat tumbuh menjadi pertikaian di dunia nyata.
Dan untuk mencegahnya, kita tidak harus memulainya dari sesuatu yang besar.
Cukup dari diri sendiri:
Berpikir sebelum berbicara.
Memahami sebelum menghakimi.
Memeriksa sebelum membagikan.
Mengkritik tanpa membenci.
Dan menyatukan, bukan memisahkan.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang seluruh rakyatnya berpikir sama, melainkan bangsa yang mampu tetap bersatu meskipun memiliki perbedaan.
Yakin Usaha Sampai.
(JD09)









